HI UPU BANGUN KESIAGAAN TERHADAP BENCANA

IMG_8478

Secara geografis, Indonesia berada di antara tiga lempeng tektonik menjadikannya negara yang rawan bencana. Indonesia menduduki peringkat tertinggi di dunia untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan gunung berapi. Masih membekas dalam ingatan kita, tangis sendu korban Tsunami Aceh (2004), Gempa Nias (2005), Gempa Yogyakarta (2009), Letusan Gunung Sinabung (2014) dan Tanah longsor di Ponorogo (4/2017). Sudah selayaknya penduduk Indonesia memiliki kesadaran dan kesiagaan terhadap bencana.

Hal inilah yang dilakukan Prodi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Potensi Utama melalui acara Kuliah Umum bekerjasama dengan Konsulat Jenderal Jepang di Medan Sabtu, 18 Maret 2017 yang lalu. Bertajuk Seminar Kebudayaan Kamishibai (Cerita Bergambar) untuk Meningkatkan Kesiagaan terhadap Bencana, HI UPU menghadirkan Yoko Takafuji, MBA, seorang peneliti asal Wako University Japan, Jelas Novan Prasetya, M.H.I selaku Kaprodi Ilmu Hubungan Internasional.

Pada acara ini, Yoko berkolaborasi dengan PM.Toh, seorang pendongeng nasional asal Aceh. Ada yang unik dan menarik dari kolaborasi dua pembicara ini. Kedua tokoh ini menggunakan pendekatan budaya dalam presentasinya. Yoko menggunakan Kamishibai (Cerita Bergambar). Sedangkan PM. Toh menceritakan hikayat babad melalui lantunan bait syair. Mereka berdua secara bergantian bercerita tentang Smong, seorang bocah yang mendapatkan namanya melalui tragedi bencana gempa dan tsunami di Aceh pada Desember 2004 silam. Kolaborasi dua pembicara terasa lebih bermakna dengan iringan musik dan puisi yang dibacakan oleh Muhammad Yusuf.

Hadir juga dalam acara ini, Ahmad Arif, Wartawan Senior Kompas dan Penulis. Tulisan beliau terkait persoalan lingkungan dan bencana telah memenangkan banyak penghargaan. Pemaparan dan pengalaman beliau tentang Tsunami Aceh sangatlah detail. Liputan yang disertai dokumentasi mengingatkan kembali  tragedi paling mematikan dalam catatan sejarah yang menewaskan 228.432 jiwa. Presentasi Ahmad menarik atensi dari peserta yang bertanya tentang suka duka berprofesi sebagai jurnalis hingga pertanyaan tentang tsunami Aceh.

Sementara itu, Stivani Sinambela, M.H.I selaku Ketua Panitia menyatakan bahwa acara ini, merupakan momentum yang sangat baik bagi mahasiwa HI untuk belajar bagaimana praktik Diplomasi Budaya (Cultural Diplomacy) dan Diplomasi Bencana (Disaster Diplomacy) dilakukan. “Bencana alam dapat menjadi ruang bagi peningkatan kerjasama politik, ekonomi, dan sosial budaya antar negara”, tandasnya.

Secara terpisah, Dekan Fakultas Ilmu Politik dan Kependidikan, Ashari P Swondo, SPd.,M.Hum. menyatakan apresiasinya untuk Konsulat Jenderal Jepang di Medan yang telah memfasilitasi kedatangan para pembicara ke kampusnya. Paparan dan pengalaman para pembicara diharapkan dapat menambah wawasan dan membangun kesiagaan kita semua untuk tanggap bencana. Kehadiran pembicara juga diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi mahasiswa karena selain menjadi Diplomat, lulusan HI juga dapat berprofesi sebagai peneliti dan jurnalis profesional, tambahnya.

Leave us a Comment